“AIR MATA SANG JUARA” by Buddy Ace for MAIA

19 Mar 2009

PREVIEW

Album : Sang Juara
Artis : Duo Maia
Produksi : Sony-BMG
Tahun : 2009

AIR MATA SANG JUARA

by Buddy Ace

Sebagai penikmat musik saya beruntung mendapat kesempatan mendengarkan keseluruhan album terbaru Duo Maia. Tapi saya merugi karena sebagai music journalist saya membutuhkan waktu 2 minggu untuk menyimak bait demi bait setiap lagu dari 10 track dalam album Sang Juara produksi Sony-BMG itu.

Lama banget bud? tukas teman jurnalis dengan nada ketus, seperti emosi dalam lagu EGP, single kedua disaat Duo Maia muncul setahun silam, yang menurut saya saya salah satu karya terbaik Maia Estianty yang kini memasuki usia 33 tahun (27 Januari 1976).
Saya harus mengakui membutuhkan waktu cukup panjang untuk meresensi karya Maia, karena dua hal mendasar;

Pertama: Mendalami apakah karya Maia pasca bubarnya Ratu telah lepas dari bayang-bayang musisi Ahmad Dhani (resmi diceraikannya 23 September 2008), seperti keraguan banyak orang terhadap kemurnian karya Maia. Meskipun pada sebuah kesempatan interview, Maia dengan tegas telah membantahnya.

Sejak Ratu sampai Duo Maia, semuanya murni karya saya. Meski saya harus mengakui untuk membuat lagu yang baik saya banyak terinspirasi dari Mas Dhani, tandas Maia di ruang siar Radio Trijaya Jakarta tahun silam.

Kedua: Memahami musikalitas Maia, yang kini memasuki masa 6 tahun berkarier dalam industri musik pop Indonesia, apakah ia telah memanfaatkan ruang musik sebagai sebuah media penyampai pesan yang efektif bagi pendengarnya (esensi berkesenian) atau sekadar sebagai media curahan hati yang bermuara pada nilai hiburan semata?

Seperti juga karya para komposer besar di Indonesia bahkan di dunia sekalipun, sikap sintimentil kerap hadir dalam karya-karya mereka, Maia pun demikian, ia tak luput dari karakter khas para seniman sejati.
Simak saja komposisi Pengkhianat Cinta yang melibatkan suara pendatang baru Cinta Laura. Karya ini, sesungguhnya sangat sentimentil, meski dengan sangat cerdas dan tentu saja kreatif, Maia menampilkannya dalam tempo yang dinamis bernuansa dance music.

Gadis itu si Lola, gadis itu si Mona mereka pengkhianat cinta petikan lirik lagu Pengkhianat Cinta itu, oleh Meychan disisipkan dengan desahan iihhhiihhhiihhh, dengan cara dan gaya yang mengingatkan kita pada seorang penyanyi pop wanita yang kerap menghiasi program music televise dan tentu saja rado siawan swasta.

Sebuah ungkapan sentimentil kalau tak ingin dikatakan kemarahan seorang Maia terhadap mereka yang berkhianat terhadap pasangannya, seperti yang juga dialaminya. Dan Maia memformulasikannya dalam sebuah karya yang sangta menghibur. Pesan kemarahannya nya sampai dengan cara nan menghibur.

Mari kita mulai membantah tudingan bahwa Maia tak bisa hilang dari baying-bayang Ahmad Dhani. Katakanlah di saat Maia mengawali debut albumnya bersama Pinkan Mambo, kita menemukan eksplorasi vocal yang berbeda dengan penyanyi wanita pada saat itu di tahun 2003. Pinkan muncul dengan karakter yang genit dalam komposisi Aku Baik-Baik Saja, Salahkah Aku Terlalu Mencintaimu, dan Jangan Bilang Siapa-Siapa. Lagu itu pun identik dengan Pinkan dan suara Pinkan identik dengan suara Ratu. Sejumlah pengamat menyebutkan, keberhasilan itu tak lain berkat tangan dingin Ahmad Dhani. Oh really?

Komentar serupa pun muncul lagi tat kala di tahun 2005, Ratu menggamit Mulan Kwok selepas Pinkan Mambo hijrah tuk solo karier. Mulan muncul dengan karakter suara yang centil sekaligus penampilan yang sexy seperti dalam hits paling popular Ratu, yakni Teman Tapi Mesra. Konon album ini mencapai angka penjualan 400 ribu kopi.

Nama Maia pun mulai diperhitungkan di ranah industri musik Indonesia sebagai salah satu komposer wanita yang mumpuni. Apalagi lagu Lelaki Buaya Darat muncul sebagai andalan Ratu di tahun 2006. Fantastis, penjualannya pun meraup angka 500 ribu keping. Perlahan bayang-bayang kebesarah nama Ahmad Dhani mulai ditepiskan.

Tentu saja asumsi baying-bayang itu masih melekat kuat, sampai akhirnya Mulan hengkang di tahun 2007 dan Maia kembali dengan formasi baru bersama penyanyi dengan suara sexy dan menggemaskan (berbanding terbalik dengan pendahulunya Mulan Kwok, suara centil gaya sexy). Secara dejure maun defacto, Ahmad Dhani sama sekali tak terlibat dalam formasi Duo Maia itu.

Pertanyaannya, apakah karya-karya Maia masih tetap bergizi dan bernas dalam formasi Duo Maia dan tentu saja tanpa stigma baying-bayang besar itu?
EGP (Emang Gw Pikirin) dan Ingat Kamu adalah 2 hits andalan Duo Maia di tahun 2008 lewat mini album bertajuk Maia & Friends, yang mendapat penghargaan double platinum. Meskipun hanya mencapai angka penjulan 300 ribu keping, namun Maia Estianty telah menunjukkan eksitensinya, tak sekadar sebagai pelantun lagu, tapi menjadi salah satu komposer dari sedikit sekali komposer wanita di Indonesia.

Mau bukti?
Lagu Lets Get The Beat karya Maia, menjadi theme song sebuah produk kendaraan motor, yang di album terbaru ini kembali dinyanyikan oleh Maia dan Mulan dan berada pada track ke-10.
Demikian pula Sang Juara,salah satu karya Maia yang sekaligus menjadi tajuk album terbaru MAIA (tak lagi menggunakan nama Duo Maia), menurut Maia lagu ini telah diminta oleh pihak PERTINA (Persatuan Tinju Nasional) untuk m enjadi theme song mereka.

Jika mengulik liriknya, tak ada kalimat provokatif apalagi advertised untuk kepentingan Pertina. Semuanya dikemas lugas dengan kata-kata pilihan.

Lagu Sang Juara bukan tentang seorang pemenang yang berhasil mengalahkan lawannya, tapi lagu ini ingin menyampaikan pesan bahwa sehebat apapun seseorang ingin menjatuhkan aku, bahkan sampai aku terjatuh sekalipun, aku tetap berusaha tegar an kembali berdiri tanpa harus membalas dendam, terang Maia, usai menyerahkan duplikat album Sang Juara yang sebentar lagi beredar di pasaran.
Bahkan sebuah karya Maia, menjadi hits setelah disenandungkan oleh pendatang baru group vokal Pasto. Masihkah ada yang sesumbar soal bayang-bayang besar itu? Silahkan membuktikannya sendiri.

Kembali ke album Sang Juara, kembali ke soal sentimentil-nya Maia.
Ada sebuah obrolan dalam dunia musik yang menyebutkan bahwa seniman besar dan seniman sejati, karya-karya terbaik dan terbesarnya selalu merupakan kisah paling subyektif dalam hidup mereka.
Apa yang mereka rasakan untuk yang mereka ekpresikan dalam karyanya, termasuk ekpresi kesedihan dengan linangan air mata saat melagukannya, seperti Air Mata Maia di dalam lagu Serpihan Sesal.

Salah satu babak yang paling menyedihkan dalam perjalanan hidupnya adalah perceraian. Dan Serpihan Sesal tak membutuhkan suara Mey Chan. Ia cukup main gitar dalam sebuah perforances. Maia perlu ruang privacy untuk mengekpresikan perasaannya yang sangat subyektif, namun sekaligus obyektif, karena nyaris sebagian besar perempuan di dunia ini mengalaminya. Sebuah karya yang cerdas dan kreatif sekaligus menghibur mereka yang tengah terluka dan berlinang air mata seperti Maia.

Setelah ‘Pengkhianat Cinta’ menjadi single hits pertama, maka ‘Serpihan Sesal’ layak menjadi 2nd single hits yang bakal menguarai air mata banyak wanita di tanah air.

Apapun, Maia Estianty, masih memiliki waktu yang panjang untuk terus membuktikan eksistensinya sebagai seniman sejati, yang tak sekadar mengandalkan suara sexy nan menggemaskan dengan penampilan mempesona, tapi sebuah karya yang memberi muatan edukasi dan inspirasi bagi pendengarnya.

Kalau ada yang patut dikagumi adalah; Maia telah memegang kunci bagaimana memperlakukan medium musik menjadi medium ekspresi hiburan yang bernas dan bergizi. Maia pun kini lebih ekspresif dan sangat percaya diri dengan suaranya sendiri, termasuk dalam nomor ‘Mengemis Cinta’ dan ‘Penantian Rahasia’. Dengan kata lain, meski berurai air mata tapi tetap saja berupaya menjadi sang juara


TAGS


-

Author

Follow Me


Categories

Archive